Minggu, 17 Juni 2012

Pengaruh Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Mikroorganisme


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat banyak, mereka berasal dari Air, Tanah dan Atmosfer. Masing-masing mikroorganisme memiliki cara tersendiri utnuk hidup mulai dari lingkungan maupun cara untuk hidup.
Kehidupan mikroorganisme pada umumnya sangat tergantung pada faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini meliputi faktor biotik dan faktor abiotik.
            Faktor abiotik adalah faktor luar seperti pada pengaruh suhu, pengaruh pH, pengaruh tekanan osmose dan lain-lain. Sedangkan pengaruh faktor biotik adalah dari mikrooganisme itu sendiri.
            Faktor-faktor biotik tersebut meliputi faktor fisik (suhu, pH, tekanan osmose) faktor kimia (senyawa racun), dan faktor biologi (interaksi dengan mikroorganisme lainnya). Faktor inilah yang sering terjadi dan dialami didalam pertumbuhan suatu mikroorganisme yang banyak dari organisme tersebut suatu senyawaan dapat berlaku sebagai sumber energi.
Oleh karena itu dilakukan percobaan ini, untuk mengetahui bagaimana pengaruh lingkungan sehingga mikroorganisme tersebut dapat hidup dan berkembang biak untuk melangsungkan kehidupannya.

B.   Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada praktikum ini adalah Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan suatu mikroba ?
C.   Maksud Praktium
Maksud dari praktikum ini adalah mengetahui dan memahami pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroba seperti pengaruh suhu, pH, cahaya matahari, zat-zat kimia dan logam berat.
D.   Tujuan Praktikum
Adapun Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan pengaruh suhu, pH, cahaya matahari, zat-zat kimia dan logam terhadap pertumbuhan Bacillus subtilis.
E.   Manfaat Praktikum
Dengan melakukan percobaan ini kita dapat mengetahui pengaruh lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan suatu mikroorganisme.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.   Teori Umum
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berhubungan dengan berbagai macam mikroorganisme yang dapat menginfeksi yang dapat membahayakan atau merusak inang. Akan tetapi, agar dapat memahami lebih banyak masalah dalam mendiagnosis dan pencegahan infeksi, maka perlu diketahui bahwa mikroorganisme yang telah menemukan tempat yang tetap pada bagian-bagian tubuh manusia disebut flora normal kita (M. Natsir Djide, 2004).
            Mikroorganisme mempunyai penyebaran yang sangat luas,  ada di dalam air, di udara, bahan makanan, minuman, dalam sediaan farmasi, dalam tubuh manusia, bahkan mikroorganisme masih dapat ditemukan di atmosfer sampai ketinggian 10 km (M. Natsir Djide, 2004).
Adapun Pengaruh lingkungan pada pertumbuhan dan perkembangan bakteri (Entjang, 2003);
a.    Pengaruh suhu
1)    Pengaruh suhu rendah
Suhu rendah sampai di bawah suhu minimumnya, menyebabkan bakteri tidak dapat berkembang biak, pada umumnya tidak segera mematikan bkteri, bahkan ada yang tahan bertahun-tahun pada suhu minus 70°C (tujuh puluh derajat Celcius). Bakteri yang pathogen pada manusia umumnya cepat mati pada suhu 0°C (nol derajat Celcius).
2).  Pengaruh suhu tinggi
Suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan bakteri dibandingkan dengan suhu rendah. Bila bakteri dipanaskan pada suhu di atas maksimumnya, akan segera mati.  Semua bakteri, baik yang pathogen maupun tidak, dalam bentuk vegetatifnya mati dalam waktu 30 (tiga puluh) menit pada suhu 60° - 65°C. Kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi.
b.   Cahaya
Sebagian besar bakteri adalah chemotrophe, karena itu pertumbuhannya tidak bergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa species, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar ultraviolet.
c.   Pengeringan (kelembaban)
Air sangat penting untuk kehidupan bakteri terutama karena bakteri hanya dapat mengambil makanan dari luar dalam bentuk larutan (holophytis). Semua bakteri tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab., dan tidak dapat tumbuh pada media dan udara yang kering.
d.  Keasaman (pH)
Umumnya asam mempunyai  pengaruh buruk terhadap pertumbuhan bakteri. Kebanyakan bakteri lebih baik hidup dalam suasana netral (pH 7,0) atau sedikit basa (pH 7,2 - 7,4), tetapi pada umumnya dapat hidup pada pH 6,5 – 7,5.
Bakteri-bakteri yang pathogen pada manusia tumbuh baik pada pH 6,8 – 7,4 yaitu sama dengan pH darah.
e.  Pengaruh O2 dari udara
Untuk melangsungkan hidupnya, manusia dan binatang membutuhkan O2 (oxygen) yang diambil dari udara melalui pernapasan. Fungsi O2 ini sudah jelas, yaitu untuk pembakaran zat-zat makanan didalam sel-sel jaringan, sehingga dihasilkan panas dan tenaga.
f.    Pengaruh tekanan osmotik
Air ke luar masuk sel bakteri melalui proses osmosis, karena perbedaan tekanan osmotic antara cairan yang ada di dalam dengan yang di luar sel bakteri.
g.  Pengaruh mikroorganisme di sekitarnya
Kehidupan suatu organisme di alam tidak dapat dipisahkan dari adanya organisme lain, seperti halnya manusia tidak dapat hidup bila tidak ada tumbuhan ataupun hewan. Organisme-organisme ini di alam berada dalam suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan biologis. Demikian pula, bakteri di alam selalu bercampur dengan bakteri yang lainnya, tidak pernah didapatkan keadaan murni seperti halnya pada biakan murni yang sengaja dibuat di laboratorium.


h.  Pengaruh zat kimia (desinfektan) terhadap mikroba
1)    Mengubah permeabilitas membran cytoplasma sehingga lalu lintas zat-zat yang keluar  masuk sel mikroba menjadi kacau.
2)    Oksidasi. Beberapa oksidator kuat dapat mengoksidasi unsur sel tertentu sehingga fungsi unsur itu terganggu, misalnya mengoksidasi suatu enzym.
3)    Terjadinya ikatan kimia ion-ion logam tertentu dapat mengikatkan diri pada beberapa enzym sehingga fungsi enzym itu terganggu.
4)    Memblokir beberapa reaksi kimia. Misalnya preparat sulfa memblokir syntesa folic acid di dalam sel mikroba.
5)    Hydrolysa asam atau basa kuat dapat menghydrolisakan struktur sel sehingga hancur.
6)    Mengubah sifat colloidal protoplasma sehingga menggumpal dan selnya mati.
Dalam kehidupan sehari-hari , banyak bahan kimia dapat digunakan untuk pengendalian mikroorganisme. Karena diketahui bahwa zat-zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme. Bahan-bahan tersebut dapat digunakan pada bidang kedokteran, farmasi, pertanian, pengawetan makanan/minuman dan laboratorium mikrobiologi. Beberapa diantaranya zat-zat kimia tersebut dapat digunakan pada jaringan manusia dan juga dapat digunakan pada benda mati atau kedua-duanya (M. Natsir Djide, 2004).

B.   Uraian Bahan
1.    Air suling (Dirjen POM,1979)
Nama resmi        : Aqua destillata
Nama lain           : Aquadest, air suling.
RM / BM              : H2O / 18,02
Pemeriaan           : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
Penyimpanan    : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan          : Sebagai pelarut.
2.    Agar  (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi               :  Agar
Sinonim                     : Agar-Agar
   Pemerian                   :  Berkas potongan memanjang, berlekatan atau berbentuk keping, serpih atau butiran, jingga lemah kekuningan sampai kuning pucat atau berwarna, tidak berbau atau lemah, rasa berlendir.
Kelarutan                     :  Praktis tidak larut dalam air , dan larut dalam air mendidih.
Penyimpanan             :  Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan                    :  Sebagai bahan pemadat medium NA.


3.    Asam sitrat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi         : ACIDUM CITRICUM
Nama lain            : Asam sitrat
RM / BM               : C6H8O7. H2O / 210,34
Pemerian           : Hablur tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa sangat asam, agak higroskopik, merapuh dalam udara kering dan panas
Kelarutan           : Larut dalam kurang dari 1 bagian air dan dalam 1,5 bagian etanol (95%) P, sukar larut dalam eter P.
Penyimpanan     : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan           : Menghilangkan sifat alkali dari logam
2.  Ekstrak Beef (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi                 :  Beef extrak
Sinonim                        :  Kaldu nabati dan kaldu hewani.
Pemerian                     :  Berbau dan berasa pada lidah.
Kelarutan                     :  Larut dalam air dingin.
Penyimpanan             :  Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan                    :  Komposisi NA dan NB
4.   HCl (Dirjen POM,1979)
Nama resmi         : Acidum Hydrochloridum
Nama lain            : Asam klorida
RM/BM                 : HCl / 36,46
Pemeriaan          : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang.
Kelarutan            : Larut dalam 2 bagian air.
Penyimpanan     : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan           : Sebagai pemberi suasana pengasam
3.  Pepton (Ditjen POM, 1979)
Nama Resmi                :  Pepton
Sinonim                      :  Pepeton Kering
Pemerian                      : Serbuk; kuning kemerahan sampai coklat; bau khas, tidak busuk.
Kelarutan                    :   Larut dalam air; memberikan larutan berwarna coklat kekuningan yang bereaksi agak asam; praktis tidak larut dalam etanol (95 %) P dan dalam eter P.
Penyimpanan             :  Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan                    :   Sebagai sumber nutrien mikroba.


C.   Uraian Mikroba Uji
1.  Bacillus cereus ( Garrity,2004)
a. Klasifikasi
Donami                : Bacteria
Phylum  
              : Firmicutes
Class       
            : Bacilli
Order      
              : Bacillales
Family   
               : Bacillaceae
Genus    
             : Bacillus
Species  
             : Bacillus cereus
     b. Morfologi bakteri  (Jawet,1980)
               Bacillus cereus merupakan bakteri Gram-positif, aerob fakultatif, dan dapat membentuk spora. Selnya berbentuk batang besar dan sporanya tidak membengkakkan sporangiumnya. Sifat-sifat ini dan karakteristik-karakteristik lainnya, termasuk sifat-sifat biokimia, digunakan untuk membedakan dan menentukan keberadaan B. cereus , walaupun sifat-sifat ini juga dimiliki oleh B. cereus var. mycoides , B. thuringiensis dan B. anthracis . Organisme-organisme ini dibedakan berdasarkan pada motilitas/gerakan (kebanyakan B. cereus motil/dapat bergerak), keberadaan kristal racun (pada B. thuringiensis ), kemampuan untuk menghancurkan sel darah merah (aktivitas hemolytic ) ( B. cereus dan lainnya bersifat beta haemolytic sementara B. anthracis tidak bersifat hemolytic ), dan pertumbuhan rhizoid (struktur seperti akar), yang merupakan sifat khas dari B. cereus var. mycoides.
D.   Uraian Sample
1.  “Carex” handwash
Komposisi          :      aqua, sodium laurethsulfate, glycerin, lauramidopropyl betaine, sodium choloride, laureth-4, lactid acid, polyquaternium-39, parfum, sodium benzoat, tetra sodium EDTA, Cocamidopropyl P6-Dimonium choride phosphate, sodium benzotriazolylbutylphenol sulfonate, buteth-3, tributyl citrate, mel, methyl paraben, propylparaben, potassium sorbate, Cl 60736
Kegunaan         :      Membunuh kuman




BAB III
KAJIAN PRAKTIKUM
A.   Alat
Adapun Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah Autoklaf, Cawan petri, Inkubator, Lampu spiritus, Tabung reaksi, Rak tabung, Spoit, Labu Erlenmeyer, Pinset, Pipet tetes dan Peper disk.

B.   Bahan
Adapun Bahan yang digunakan adalah Aquadest steril, Alkohol 70%, Asam Sitrat, Bacillus subtilis,  NaOH, Kapas, Label, Medium PDA/ PDB, Kertas karbon, Desinfektan, Antiseptik, Antibiotik dan Uang logam.

C.   Cara Kerja
1). Pengaruh suhu
1.    Disuspensikan Bacillus subtilis pada tabung.
2.    Diambil Bacillus subtilis dengan menggunakan spoit, kemudian dipindahkan ke tabung reaksi yang telah berisi medium PDB sebanyak 9 ml.
3.    Ditutup, kemudian disimpan pada suhu 5’C (kulkas), 27’C (enkas), dan 37’C (inkubator).


2). Pengaruh pH
1.    Disuspensikan  Bacillus subtilis pada tabung.
2.    Diambil Bacillus subtilis dengan menggunakan spoit,  kemudian dipindahkan ke tabung reaksi yang telah berisi medium PDB sebanyak 9 ml.
3.    Disimpan pada pH 3, 7, 9.
3). Pengaruh Zat Kimia
1.    Diambil suspensi Bacillus subtilis, dan dipindahkan ke dalam cawan petri.
2.    Ditambahkan dengan medium PDA, biarkan memadat.
3.    Dimasukkan piperdisk yang telah dicampur dengan bahan-bahan kimia (antibiotik, antiseptik, desinfektan),  yang sebelumnya cawan petri telah dibagi menjadi 3 bagian.
4.    Disimpan ke dalam inkubator.
4). Pengaruh Cahaya.
1.    Diambil suspensi Bacillus subtilis, dipindahkan ke dalam 3 cawan petri.
2.    Ditambah dengan 5 ml medium PDA, biarkan memadat.
3.    Cawan petri yang pertama dibungkus dengan kertas karbon, dan dipaparkan pada sinar matahari, cawan petri yang kedua dibungkus dengan kertas karbon tetapi tidak dipaparkan pada sinar matahari, cawan petri yang ketiga tidak dibungkus dengan kertas karbon dan dipaparkan pada sinar matahari dan cawan petri ketiga tidak dibungkus dengan kertas karbon dan tidak di paparkan pada sinar matahari.
5). Pengaruh uang logam.
1.    Diambil suspensi Bacillus subtilis, dipindahkan ke dalam cawan petri.
2.    Ditambahkan dengan 10 ml medium PDA, biarkan memadat.
3.    Uang logam direndam dengan asam sitrat, kemudian dialiri dengan aquadest, lalu masukkan ke dalam cawan petri yang tadi.


BAB IV
KAJIAN HASIL PRAKTIKUM
A.   Hasil Pengamatan
 
1.    Tabel Hasil Pengamatan
1.    Pengaruh Suhu & pH

Mikroba Uji
Pengaruh pH
Suhu
3
7
9
Kontrol
50
250
370
Kontrol
Bacillus subtilis
+
+
-
+
+
+
++
+
 Keterangan :
     +          = ditumbuhi sedikit Mikroorganisme
     ++        = ditumbuhi banyak Mikroorganisme
-           = tidak ditumbuhi mikroorganisme
2.    Pengaruh Logam dan Zat Kimia
Nama Sample
Diameter Zona Hambatan (mm)
Ciprofloksasin
36,7
Wipol
23,3
Carex
25
Uang Koin Taiwan
24,3

3.    Pengaruh Cahaya


Mikroba Uji
Perlakuan
Dibungkus, dipaparkan
Dibungkus, tdk dipaparkan
Tdk dibungkus, dipaparkan
Tdk dibungkus, tdk dipaparkan
Bacillus subtilis
TBUD
TBUD
988
TBUD
B.   Pembahasan
            Banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan mikroba antara lain faktor abiotik yang meliputi temperatur, kelembaban, tekanan osmosis, pengaruh pH, pengaruh logam berat serta pengaruh zat-zat kimia. Sedangkan faktor biotik meliputi bebas hama serta asosiasi. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka dilakukanlah pengamatan tentang pengaruh suhu, pH, cahaya, zat kimia dan logam berat terhadap pertumbuhan bakteri. Perlu diketahui bahwa aktivitas kehidupan suatu jasad memerlukan keadaan sekitar yang sesuai, yang dapat mempengaruhi sifat morfologi dan fisiologi dari jasad akan menyesuaikan dengan keadaan sekitar yang ada pada waktu itu.
Pada percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap mikroba akibat pengaruh faktor lingkungan yang meliputi faktor abiotik. Faktor abiotik adalah faktor luar yang dapat berupa faktor kimia dan faktor fisika. Dalam percobaan ini dilihat faktor fisika meliputi pengaruh suhu, pengaruh pH dan pengaruh cahaya (sinar matahari). Adapun faktor kimia digunakan zat-zat kimia untuk melihat bagaimana penghambatan pertumbuhan mikroba yang bersangkutan.
Dalam mengamati pertumbuhan mikroba, digunakan sampel mikroba uji Bacillus subtilis Dan medium yang digunakan untuk menginokulasikannya adalah PDA dan PDB. Metode yang digunakan adalah metode agar tuang yakni salah satu metode penginokulasian mikroba dengan cara menuangkan medium padat kedalam cawan petri yang sebelumnya telah dimasukkan mikroba uji. Selanjutnya medium dengan mikroba uji langsung dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Setelah memadat, maka dapat dilakukan pengerjaan selanjutnya. Sementara untuk medium cair, sebaliknya dimana kedalamtabung reaksi dimasukkan terlebih dahulu medium yang selanjutnya diambil biakan mikroba untuk dimasukkan dalam medium tersebut.
1.     Pengaruh Suhu
Pada percobaan dengan pengaruh suhu, dilakukan perlakuan pengamatan pertumbuhan mikroba Bacillus subtilis dengan variasai suhu yakni 5oC, 27oC dan 37oC. Mikroba dapat bertahan hidup dalam suatu batas-batas temperatur tertentu, jadi dengan variasi tersebut dapat diketahui ketahanan tubuh suatu mikroba. Batas-batas tersebut dinamakan suhu minimum dan suhu maksimum, sementara suhu yang paling baik bagi mikroba untuk tumbuh disebut suhu optimum.
2.     Pengaruh pH
Perubahan pH dalam lingkungan mikroba dpat mempengaruhi proses pertumbuhan mikroba tersebut. Pada waktu  pertumbuhan suatu mikroba, konsentrasi ion hidrogen (pH) didalam media tempat tumbuhnya mempengaruhi protein (baik enzim dan sistem pengangkutannya) yang terdapat pada membran selnya. Struktur protein itu akan berubah bila pH dalam media juga berubah. Mikroba memiliki enzim yang berfungsi sempurna pada kisaran pH tertentu, yang jika terjadi penyimpanan pH maka pertumbuhan maupun metabolismenya dapat terhenti. Biasanya, mikroba tumbuh pada pH sekitar 7,0 namun adapula yang dapat tumbuh pada pH 2,0 dan pH 10,0. bakteri tumbuh pada kisaran pH agak basa yaitu 5,8 sampai 6. karena pada pH 5,7 bakteri dapat terhambat pertumbuhannya,
Dari hasil percobaan mikroba uji diinokulasaikan dalam medium PDB pada 3 variasi pH yaitu pH asam (3,0), pH netral (7,0) dan pH basa (9,0). Untuk pH 3, media ditambahkan larutan asam klorida dengan tujuan untuk mengasamkan media yang ber-pH netral sekitar (7,0). Dengan menambahkan beberapa tetes HCl maka pH media akan berubah menjadi pH asam sampai pada pH yang diinginkan. Sementara untuk pH 9,0 maka media ditambahkan reagen basa yaitu NaOH beberapa tetes untuk menaikkan pH media ke pH 9,0. Setelah inkubasi, diamati pertumbuhannya dan hasilnya yaitu pada Bacillus subtilis, ada pertumbuhan pada pH 3 dan 7 namun untuk pH basa tidak terdapat pertumbuhan bakteri yang ditandai dengan jenihnya medium PDB. Artinya bakteri ini tidak mengalami pertumbuhan optimum pada suasana basa.
3.    Pengaruh cahaya
Pada daerah atau tempat yang kurang mendapatkan cahaya  (sinar matahari) biasanya pertumbuhan mikroorganismenya lebih baik dibandingkan dengan daerah yang terkena langsung dengan sinar matahari. Karena cahaya umumnya dapat merusak mikroba yang tidak mempunyai pigmen fotosintesis. Cahaya mempunyai pengaruh germisida, terutama cahaya bergelombang pendek dan bergelombang panjang. Pengaruh germisida dari sinar bergelombang panjang disebabkan oleh panas yang ditimbulkannya, misalnya sinar inframerah. Sinar x (0,005- 1,0 Ao), sinar ultra violet (4000-2950 Ao), dan sinar radiasi lain dapat membunuh mikroba. Apabila tingkat radiasi yang diterima sel mikroba rendah, maka dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba.
Pada dasarnya, rangkaian reaksi dapat dibagi menjadi dua bagian utama: reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida). Reaksi terang terjadi pada grana (tunggal: granum), sedangkan reaksi gelap terjadi di dalam stroma. Dalam reaksi terang, terjadi konversi energi cahaya menjadi energi kimia dan menghasilkan oksigen (O2). Sedangkan dalam reaksi gelap terjadi seri reaksi siklik yang membentuk gula dari bahan dasar CO2 dan energi (ATP dan NADPH) Energi yang digunakan dalam reaksi gelap ini diperoleh dari reaksi terang. Pada proses reaksi gelap tidak dibutuhkan cahaya Matahari. Reaksi gelap bertujuan untuk mengubah senyawa yang mengandung atom karbon menjadi molekul gula.
Pada percobaan ini dilakukan 4 perlakuan yang berbeda pada suspensi biakan-biakan mikroba. Pada cawan petri I dipaparkan pada sinar matahari dan dibungkus karbon. Pada cawan petri II tidak dipaparkan di bawah sinar matahari dan dibungkus dengan karbon. Cawan petri III dipaparkan pada sinar matahari selama 15 menit tanpa dibungkus karbon. Cawan petri IV tidak dipaparkan pada sinar matahari dan tidak dibungkus karbon. Kertas karbon merupakan bahan yang digunakan untuk  menghambat pencahayaan langsung sinar matahari sehingga menghambat pertumbuhan mikroba.
Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh, Basillus subtilis banyak yang tumbuh pada semua cawan sehingga termasuk golongan bakteri autotrof, Bakteri autotrof adalah bakteri yang memperoleh energinya umumnya dari proses fotosintetis dengan kata lain membutuhkan karbondioksida sebagai sumber karbonnya..
4.    Pengaruh Zat kimia
Pengamatan pengaruh zat-zat kimia dilakukan dengan mengukur zona hambatan terhadap masing-masing zat kimia. Pada percobaan ini digunakan antibiotika, desinfektan maupun antiseptik. Antiseptik adalah zat-zat yang digunakan untuk mematikan / menghentikan pertumbuhan kuman pada jaringan hidup, khususnya diatas kulit atau selaput mukosa. Desinfektan adalah zat-zat yang digunakan untuk mencegah infeksi dengan jalan pemusnahan hama patogen pada benda-benda tak hidup. Sementara antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh mikroba, terutama bakteri dan fungi, yang berkhasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroba lain yang toksisitasnya bagi manusi relatif kecil. Pada percobaan ini di peroleh data bahwa Ciprofloksasin menpunyai zona hambat 36,7mm, Wipol 23,3mm, Carex 25mm. Disini kita dapat menarik kesimpulan bahwa Ciprofloksasin lebih ampuh membunuh mikroba.
5.    Pengaruh Logam
Untuk pengaruh logam sampel yang digunakan adalah uang logam dari negara Taiwan. Sebelum dimasukkan dalam cawan petri uang logam terlebih dahulu dicuci dengan asam sitrat untuk menghilangkan sifat alkali dari uang logam tersebut dan agar menghilangkan karatan. Berdasarkan data pengamatan untuk bakteri Bacillus subtilis  memiliki zona hambatan 24,3 mm.



BAB V
KESIMPULAN dan SARAN
A.   Kesimpulan

B.   Saran



DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2012.”Penuntun Praktikum Mikrobilogi Farmasi Dasar”. Fakultas Farmasi UMI : Makassar.

Dirjen POM 1979. Farmakope Indonesia Edisi III”. Depkes RI : Jakarta.

Dirjen POM 19. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI : Jakarta.

Entjang, Indan.2003.”Mikrobiologi dan Parasitologi”.PT.Citra Aditya Bakti : Bandung.
Natsir Djide, M, .Drs .2003. “Bakteriologi”. Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin : Makassar.

Suriawiria (1986).” Pengantar Mikrobiologi Umum”. Angkasa : Bandung.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar