Minggu, 17 Juni 2012

Isolasi dan Inokulasi


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Berbicara tentang mikroorganisme itu banyak sekali sumbernya misalnya saja dari makanan, minuman, kotoran, tanah, air, dan udara. Untuk memperoleh biakan murni atau biakan yang sebenarnya dibutuhkan suatu cara atau metode.
Dalam praktikum ini ada dua metode yang dilakukan yaitu inokulasi dan isolasi. Dimana inokulasi merupakan suatu pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Dengan demikian akan diperoleh biakan mikroorganisme yang dapat digunakan untuk pembelajaran mikrobiologi. Pada praktikum ini akan dilakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril untuk mempelajari mikrobiologi dengan satu kultur murni saja. Sedangkan isolasi adalah cara untuk memisahkan mikroorganisme tertentu dari lingkungan.
Identifikasi biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini dilakukan dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama pemindahan berulangkali. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat. Kekeruhan dalam kaldu menunjukkan terjadinya pertumbuhan mikroorganisme. Bila mikroorganisme menumpuk pada dasar tabung maka akan membentuk sedimen, sedangkan pada permukaan kaldu pertumbuhannya terlihat sebagai pelikel.
B.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada percobaan ini adalah :
1.    Bagaimana cara mengisolasi dan menginokulasi mikroorganisme?
2.    Bagaimana morfologi dari pertumbuhan mikroorganisme tersebut ?
C.      Maksud Praktikum
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara mengisolasi mikroorganisme dari lingkungannya dan menginokulasi kultur murni mikroorganisme ke media pertumbuhan yang sesuai.
D.     Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum adalah:
1.    Untuk menentukan bentuk koloni, elevasi, tepi dan struktur dalam dari mikroorganisme hasil isolasi dari substrat padat, cairan dari lingkungan pada medium TEA.
2.    Untuk menentukan bentuk pertumbuhan koloni mikroba Candida albicans, Streptococcus aereus, Streptococcus mutans dan E. coli dari medium miring, tegak dan cair.

E.      Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini yaitu untuk melihat keanekaragaman mikroorganisme pada berbagai bahan di lingkungan sekitar kita.





BAB III
KAJIAN PRAKTIKUM
A.   Alat yang dipakai
Adapun alat-alat yang dipakai pada percobaan kali ini adalah autoklaf, botol coklat, cawan petri, cutton bud, erlenmeyer, enkas, inkubator, kompor gas, lampu spritus, ose bulat, ose lurus, oven, rak tabung, sendok tanduk, spatula, spoit, tabung reaksi, timbangan analitik.
B.   Bahan yang digunakan
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Air sumur, air PAM Daya, air Akkarena, air sumur bor Muh. Yamin, tanah pettarani (Maros), tanah Hj. Kalla,tanah Rappocini, Tanah BTP, teh pucuk, buavita, slai olai, Nissin crispy, Escherichia coli, Streptococus mutans, Streptococcus aereuns, Candida albican, Sallmonella thypii.
C.   Cara Kerja
1.    Inokulasi Mikroorganisme
a.    Medium Agar Tegak
·         Disiapkan medium GNA tegak dengan mengambil sebanyak 10 mL menggunakan spoit kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan dibiarkan membeku dengan posisi tegak. Mulut tabung reaksi dan labu erlemeyer berisikan GNA dipijarkan sebentar di atas nyala lampu spiritus.
·         Dimasukkan ke dalam autoklaft dan dibiarkan memadat dalam posisi tegak.
·         Dipijarkan ose lurus di atas nyala lampu spiritus ose yang telah disterilkan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi Strephococcus muttans dan kemudian ditusukkan pada medium GNA tegak dengan cara ose diusahakan tegak lurus dan dilakukan dekat dengan nyala api spiritus dan ditutup kapas. Ose dipijarkan kembali.
·         Diberikan label pada tabung reaksi dan diinkubasi selam 1 x 24 jam pada suhu 37o C.
b.    Medium Agar Miring
·         Disiapkan medium GNA dengan cara mengambil GNA sebanyak 10 mL menggunakan spoit lalu dipindahkan ke dalam tabung reaksi dan diatur kemiringan agar GNA miring dapat terbentuk dengan baik. Sebelum dituang mulut tabung reakasi dan labu erlemeyer dipijarkan sebentar di atas nyala api.
·         Dimasukkan ke dalam autoklaft dan diatur kemiringannya agar NA miring dapat memadat dengan baik.
·         Dipijarkan ose bulat di atas nyala lampu spiritus, kemudian ose dimasukkan ke dalam tabung yang berisi biakan Strephococcus muttans dan lalu digores secara zig-zag ke dalam GNA miring, lalu ose disterilkan.
·         Diberikan label pada tabung reaksi dan diinkubasi selam 1 x 24 jam pada suhu 37o C.
c.    Medium Cair
·         Diambil 10 mL GNB menggunakan spoit steril yang telah disiapkan ke dalam tabung reaksi yang sebelumnya pada mulut tabung reaksi dan labu erlemeyer telah dipijarkan sebentar.
·         Dibiarkan tabung reaksi berdiri tegak dan ose yang telah disterilkan ditusukkan pada tabung reaksi biakan yang berisi Strephococcus muttans dan kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi medium cair.
·         Diberikan label pada tabung reaksi dan diinkubasi selam 1 x 24 jam pada suhu 37o C.


2.    Isolasi Mikroorganisme
a.    Metode Sebar
·         Dituang medium GNA 10 mL ke dalam cawan petri steril kemudian ditutup dan dihomogenkan permukaan medium dengan cara menggoyang-goyangkan dengan putaran yang sama/ seimbang. Dibiarkan memadat pada suhu kamar. Sebelumnya mulut labu erlemeyer telah dipijarkan sebentar, atau penuangan dilakukan secara aseptis.
·         Diambil sedikit sampel (Buavita) kemudian disebar merata di atas permukaan medium dalam cawan petri.
·         Diinkubasi selam 1 x 24 jam dalam incubator.
b.    Metode Tabur
·         Dituang medium GNA 10 mL ke dalam cawan petri steril kemudian ditutup dan dihomogenkan permukaan medium dengan cara menggoyang-goyangkan dengan putaran yang sama/ seimbang. Dibiarkan memadat pada suhu kamar. Sebelumnya mulut labu erlemeyer telah dijarkan sebentar atau penuangan dilakukan secara aseptis.
·         Diambil sedikit sampel (Tanah jl. Rappocini) kemudian ditabur merata di atas permukaan medium dalam cawan petri dengan bantuan spatel steril.
·         Diinkubasi selama 1 x 24 jam dalam incubator.
c.    Metode Tuang
·         Dituangkan sampel (Air PAM DAYA) sebanyak 1 mL ke dalam cawan petri steril.
·         Dituangkan medium GNA sebanyak 10 mL ke dalam cawan petri tersebut dengan cara aseptic (dipijarkan sebentar mulut labu erlemeyer).
·         Dihomogenkan permukaan medium dengan cara menggoyang-goyangkan dengan putaran yang sama/ seimbang.
·         Dibiarkan medium memadat
·         Diinkubasi selama 1 x 24 jam di dalam incubator.
d.    Metode Gores
·         Dituang medium GNA 10 mL ke dalam cawan petri steril kemudian ditutup dan dihomogenkan permukaan medium dengan cara menggoyang-goyangkan dengan putaran yang sama/ seimbang. Dibiarkan memadat pada suhu kamar. Sebelumnya mulut labu erlemeyer telah dijarkan sebentar atau penuangan dilakukan secara aseptis.
·         Digoreskan sampel urine di atas medium dengan cara zig-zag dengan menggunakan swab steril.
·         Diinkubasi medium selama 1 x 24 jam di dalam incubator.










BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Mikroorganisme terdapat dimana-mana disekitar kita.mereka menghuni tanah, air dan atmosfer. Mikroorganisme dalam lingkungan alamiah jarang terdapat sebagai biakan murni. Berbagai sedimen tanah atau air boleh jadi mengandung bermacam-macam spesies cendawan, protozoa, algae, bakteri dan virus. Karena itu konsep kultur murni yang ditekankan terdahulu harus dinilai kembali dalam penelaan ekosistem mikroba. Setiap spesies mikroorganisme akan tumbuh dengan baik didalam lingkungan hanya selama kondisinya menguntungkan bagi pertumbuhan dan untuk mempertahankan dirinya. Begitu terjadi perubahan radialdalam hal suhu atau pH, yang membuat kondisi bagi pertumbuhan spesies lain lebih menguntungkan, maka organisme yang telah teradaptasi dengan baik dalam keadaan lingkungan terdahulu (Pelezaer Jr. Michael, ESC Chan., 2001).
Di dalam alam, mikroba terdapat berbagai populasi campuran dari berbagai jenis mikroba yang berbeda. Dengan ilmu pengetahuan tentang mikrobiologi, maka dapat dipelajari spesies mikroba yang telah dipisahkan (diisolasi), tumbuh dalam suatu lingkungan yang bebas dari pencemaran  oleh bentuk-bentuk kehidupan lain. Untuk mempelajari kehidupan mikroba  perlu dilakukan kulturisasi  (pembiakan) dan isolasi (pemisahan) mikroba yang umumnya membutuhkan teknik-teknik tertentu (Sutedjo, 1997).
Beberapa mikroorganisme merupakan mikroorganisme yang dapat tumbuh dimana-mana, sehingga secara umum dapat dibagi menjadi beberapa spesies. Dalam proses pemisahan harus dilakukan dengan tepat dan penuh ketelitian. Setelah suatu medium telah terisi mikroba maka kegiatan identifikasi dapat dilakukan (Oetomo Hadi, Ratna Sari., 1990).
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa mikroorganisme di alam terdistribusi dimana-mana dalam jumlah yang besar dan sangat kompleks. Beratus-ratus spesies mikrorganisme yang meghuni bermacam-macam pada bagian tubuh kita, seperti di dalam mulut, saluran pencernaan dan kulit, dan mereka dalam jumlah yang banyak. Sebagai contoh adalah sekali bersin dapat menyebarkan beribu-ribu mikroorganisme. Penelitian perlu dilakukan, terutama apabila akan memisahkan populasi campuran mikroorgansime dari alam yang disebut biakan campuran menjadi spesies-spesies yang berbeda-beda menjadi suatu biakan murni yang terdiri atas satu jenis mikroorganisme (Jide, 2003).
Inokulasi (penanaman bakteri) merupakan pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru minta banyak ketelitian. Untuk itu terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-alat yang ada sangkut-paut dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu benar-benar steril, ini untuk menghindari kontaminasi yaitu masuknya mikroorganisme yang tidak kita inginkan (Dwidjaseputro, 1998).
Untuk meumbuhkan suatu biakan bakteri dalam media steril sejumlah sel-sel (inokulum) dipindahkan (diinokulasi) kedalam media dengan perlakuan khusus untuk mempertahankan kemurnian dari biakan. Pada waktu inokulasi, jarum yang digunakan untuk memindahkan mikroba harus dipijarkan diatas api  segera sebelum dan sesudah melakukan pemindahan. Pemanasan ini menghancurkan setiap bentuk kehidupan yang ada pada permukaan jarum atau alat pemindah (Sutedjo, 1997).
Prinsip dari isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Hal ini dapa dilakukan dengan menumbuhkannya dalam media padat, karena dalam media padat sel-sel mikroba akan membentuk suatu koloni sel yang tetap pada tempatnya. Bila digunakan media cair, sel-sel mikroba sulit dipisahkan secara individu karena terlalu kecil dan tidak tetap tinggal ditempatnya (Sutedjo, 1997).
Sifat-sifat koloni pada agar-agar lempengan mengenai bentuk, permukaan, dan tepi. Bentuk koloni dilukiskan sebagai titik-titik, bulat, benang, serupa akar, serupa kumparan. Sifat-sifat koloni pada agar-agar miring berkisar bentuk dan tepi koloni dan sifat itu dinyatakan dengan pedang, seperti duri, serupa tasbih, serupa titik, serupa batang, dan serupa akar (Volk W.A.F Wheeter., 1998).
B. Uraian Bahan
1.    Agar  (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi                :  Agar
Sinonim                      : Agar-Agar
Pemerian                    :  Berkas potongan memanjang, berlekatan atau berbentuk keping, serpih atau butiran, jingga lemah kekuningan sampai kuning pucat atau berwarna, tidak berbau atau lemah, rasa berlendir.
Kelarutan                     :  Praktis tidak larut dalam air , dan larut dalam air mendidih.
Penyimpanan            :  Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan                  :  Sebagai bahan pemadat medium NA.
2.    Alkohol 70 % (Ditjen POM III, 1979)
Nama resmi                :    Aethanolum
Sinonim                      :   Alkohol
Pemerian                  :   Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan   mudah bergerak; bau khas rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan                  :  Sangat mudah larut dalam air, kloroform P dan dalam eter P.
Penyimpanan           :  Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; di tempat sejuk, jauh dari nyala api.
Kegunaan                 : Sebagai aseptis
3.    Aquades ( Ditjen POM, 1979)
Nama resmi               :  Aqua destillata
      Sinonim                     :  Aquades, air suling
      RM / BM                     : H2O / 18,02
Pemerian                   : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
      Kegunaan                 :  Sebagai pelarut
4.    Glukosa (Dirjen POM , FI III, 1979 : 268)
Nama Resmi              :     GLUKOSUM
Nama Lain                  :     Glukosa
RM / BM                      :     C612O6  / 198,17
Pemerian                    :     Hablur tidak berwarna, serbuk hablur atau butiran putih, tidak berbau, rasa manis
Kelarutan                    :     Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air  mendidih, agak sukar larut dalam etanol (95) P. Mendidih
Penyimpanan            :     dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan                  :     sebagai pereaksi
C.   Uraian sampel
1.    Air laut Akkarena
2.    Air sumur bor Muhammad Yamin
3.    Air sumur Singa
4.    Air PDAM Daya
5.    Kotoran hidung
6.    Kotoran kulit
7.    Urin
8.    Saliva
9.    Slay O’lay
Komposisi: tepung terigu, fruktosa, minyak nabati, glukosa, gula, puree nanas, susu bubuk, garam, pengatur keasaman, lesithin kedelai, pectin, bahan pengembang ( ammonium bikarbonat, natrium bikarbonat), kalsium bikarbonat, kalsium karbonat, panile, perisa nanas, pewarna makanan, premis piramin,
Informasi nilai gizi:
·      Energy total                                        170 kkal
·      Energy lemak                                     45kkal
·      Lemak total                                         5g           5%akg
·      Protein                                                 2g           3%akg
·      Karbohidrat total                                 30g         10%akg
·      Gula                                                     13g
·      Natrium                                               120mg    5%akg
·      Vitamin b1                                                         25%akg
·      Vitamin b2                                                         10%
·      Vitamin b6                                                         20%
·      Vitamin b12                                                       15%
·      Kalsium                                                              6%
Produksi             : PT. Mayora Indah
10. Nissin Crispy
Komposisi             : Tepung Terigu, Lemak Nabati, Gula, Keju, Susu Bubuk, Soda Kue, Garam, Lesitin Kedelai, Bumbu Sapi Panggang, Penguat Rasa (MSG), Perisa Keju, Pewarna Makanan Tartrazin Cl 19140
Produksi                : PT. NISSIN BISCUIT INDONESIA
11. Teh Pucuk Harum
Komposisi           : Air, Gula, Teh Melati (Pucuk daun teh pilihan)
Informasi gizi         : Kandungan energi total 150 kkal. Lemak dan protein 0 g, karbohidrat 39 g, gula 20 g, dan natrium 20 mg
Produksi                : PT. Mayora Indah
12. Buavita Jambu Biji
Komposisi                : Sukrosa, perisa jambu, vitamin C, garam, pewarna alami karmin (CI 73015),  pengatur keasaman asam sitrat, pemantap nabati, vitamin A, air, dan buah jambu.
Informasi gizi           : Lemak total 0 g, Protein 17 g, Karbohidrat 1 g,  serat 10 g, Gula 55 g, Natrium, Kalium, Vitamin C, Vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B6, Asam folat, dan Vitamin C.
Produksi                   : PT. Ultra Jaya Milk



13. Tanah BTP
14. Tanah Hj. Kalla
15. Tanah Rappocini
16. Tanah Pettarani (Maros)
D. Uraian Mikroba

1. Escherichia coli (Chairuddin,  1999)
Kingdom   :  Prokariotik
Divisio       :  Cyanobacteria/Bacteria
Class         :  Schizomycetes
Ordo           :  Eubacteriales
Familia      :  Enterobacteriaceae / Escherichieae
Genus       :  Escherichia
Spesies     :  Escherichia coli
Morfologi     :   Sel bakteri Escherichia coli berbentuk batang dengan kedua sisinya sejajar dan kedua kutub atau ujungnya berbentuk cembung; mempunyai ukuran panjang dengan rentang 2 – 3 mm, dan lebar 0,6 mm, dan bersifat gram-negatif.
2. Staphylococcus aureus (Chairuddin, 1999)
Kingdom :  Prokariotik
Divisio     :  Scotobacteria
Ordo        :  Eubacteriales
Familia    :  Micrococeaceae
Genus     :  Staphylococcus
Spesies   :  Staphylococcus aureus
Morfologi: Kuman ini berbentuk sferis, bila menggerombol dalam susunan yang tidak teratur mungkin sisinya, agak rata karena tertekan. Diameter kuman antara 0,8 – 1,0 mikron. Pada sediaan langsung yang berasal dari nanah dapat terlihat sendiri, berpasangan, menggerombol, dan bahkan dapat tersusun seperti rantai pendek. Susunan gerombol yang tidak teratur biasanya ditemukan pada sediaan yang dibuat dari pembenihan padat, sedangkan dari pembenihan kaldu biasanya ditemukan tersendiri atau tersusun sebagai rantai pendek. Kuman ini tidak bergerak, tidak berspora dan gram positif. Hanya kadang-kadang yang gram negatif dapat ditemukan pada bagian tengah gerombolan kuman, pada kuman yang telah difagositosis dan pada biakan tua yang hampir mati.
3. Salmonella thyposa (Pelczaer,1986)
Kingdom   :  Procaryotae
Divisio       :  Protophyta
Class         :  Schizomycetes
Ordo           :  Eubacteriales
Family       :  Enterobacteriaceae
Genus       :  Salmonella
Species     :  Salmonella thyposa
Morfologi :Merupakan kuman gram negatif, tidak berspora, banyaknya/besarnya bervariasi, bergerak dengan flagel peritrik tumbuh dengan cepat pada pembenihan biasa tetapi tidak merugikan laktosa/sukrosa. Cenderung menghasilkan hydrogen sulfide, dapat hidup dalam air yang dibekukan. Untuk masa yang lama resisten terhadap zat kimia tertentu seperti hijau brilliant, Na-tetrationat, Na-dioksi kholat, menghambat kuman koliform dan bermanfaat untuk mengisolasi.
4. Streptococcus mutans (Pelczaer, 1986)
Kingdom   :  Procaryotae
Divisio       :  Protophyta (Schizophyta)
Class         :  Schyzomycetes
Ordo           :  Eubacteriales
Famili        :  Micrococcaceae
Genus       :  Streptococcus
Spesies     :  Streptococcus mutans
Morfologi   :  Sel berupa batang, bersifat aerobik, bergerak dengan flagel, membentuk endospora tersebar luas dalam tanah dan terbawa oleh partikel-partikel debu diudara, mempunyai habitat pada tanah, air, lingkungan aquatic sel pencernaan hewan maupun pada manusia.
D.   Prosedur Kerja (Suriawira,2005)
a.    Penuangan Media
  1. Media yang telah kita buat minggu kemarin, kita panaskan sampai cair.
  2. Telah tersedia 3 cawan petri dan 6 tabung reaksi. Cawan petri masing-masing diisi 15 ml media NA, MCA dan SDA. Pipet menggunakan pipet volume 20 ml. sedangkan tabung reaksi diisi 2 ml media yang sama dengan tegak dan miring. Pipet menggunakan pipet volume 5 ml. beri label.
  3. Pada cawan putar sekali saja dan jangan diganggu atau digoncang agar tidak terjadi gumpalan. Pada tabung media miring, setelah diisi media taung disandarkan pada rak tabung agar miring. Biarkan memadat.
  4. Setelah memadat, media siap digores. Lebih baik diamkan sampai dingin pada suhu kamar.
b.    Inokulasi Mikroorganisme
  1. Inokulasikan masing-masing 1 isolat mikroorganisme yang telah disediakan, yaitu ; air bak, air ledeng, dan air selokan. Cara melakukan inokulasi yaitu dengan cara menggores media plat dan miring meggunakan ose bulat, sedangkan media tegak ditusuk dengan menggunakan kawat ose lurus.
  2. Air bak, Air ledeng dan air selokan digores pada cawan petri yang masing-masing telah berisi media NA, SDA dan MCA. Tiap cawan diberi tanda untuk masing-masing air.
  3. Sedangkan pada tabung reaksi masing-masing berisi madia yang sama namun dibuat tegak dan miring. Kita hanya menggores dan menusuk air selokan saja pada tabung ini.
  4. Setiap selesai melakukan inokulasi satu galur mikroorganisme, kawat ose harus di flambir (dibakar sempurna msampai membara) untuk menghidari kontaminasi. Galur kapang lebih baik diinokuasi akhir untuk menghindari penyebaran spora yang tidak diinginkan.
c.    Inkubasi Hasil Inokulasi
  1. Semua cawan dan tabung di inkubasi pada suhu yang optimum dan waktu yang tepat untuk pertumbuhan mikroorganisme yang diinokulasi. Biakan bakteri pada 35-370C selama 24 jam sampai 48 jam, khamir pada 30-350C selama 3 hari dan kapang pada 20-250C selama 5-7 hari.
  2. Untuk hasil inokulasi pada media MCA dan NA dimasukkan dalam incubator. Dibungkus dengan kertas coklat (duplo) dan diberi label agar tidak tertukar dengan yang lain. Sedangkan pada SDA dimasukkan dalam lemari kayu dibungkus an diberi label.
  3. Pengamatan dilakukan terhadap seluruh cirri makroskopis yang dapat dilihat. Jika perlu dapat dilihat cirri makroskopisnya juga. Catat seluruh pengamatan dengan lengkap dan teliti bila perlu dengan foto.
  4. Hasil percobaan inokulasi yang terbaik dapat disimpan dalam lemari pendingin untuk dipergunakan pada percobaan minggu depannya atau untuk identifikasi.



B. Pembahasan
Isolasi mikroorganisme adalah cara pemindahan mikroorganisme darii lingkungan untuk mendapatkan biakan yang murni. Sedangkan inokulasi mikroorganisme adalah suatu cara penanaman mikroba ke dalam suatu medium. Isolasi mikroorganisme bertujuan memperlihatkan keanekaragaman mikroorganisme diudara atau dilingkungan sekitar kita dan inokulasi dilakukan bertujuan untuk mengamati pengaruh-pengaruh lingkungan terhadap  pertumbuhan mikroba yang ada disekitar kita selama ini.
Pada praktikum isolasi, metode yang digunakan adalah metode tuang, metode sebar, metoge gores dan metode tabur. Pada praktikum inokulasi metode yang digunakan adalh metode miring, metode tegak, dan metode cair.
Untuk metode isolasi, pada metode tuang dilakukan dengan menuang sampel kedalam cawan petri terlebih dahulu, kemudian menuang medium sebanyak 10 ml. Setelah itu diingkubasi selama 1 x 24 jam dan diamati. Untuk metode gores kedalam cawan Petri dituang tunggu hingga memadat setelah itu dimasukkan sample sebanyak 1 ose dan digores pada permukaan medium secara zig-zag dan diingkubasi 1 x 24 jam. Pada metode sebar dimasukkan medium dahulu sebanyak 10 ml tunggu hingga memadat, kemudian dimasukkan sampel pada permukaan medium dengan cara disebar. Dan untuk metode tabur, yaitu sampel terlebih dahulu ditabur pada cawan petri, kemudian dimasukkan medium sebanyak 10 ml, dan diingkubasi 1 x 24 jam.
Untuk metode inokulasi, metode tegak dengan cara menuang medium NA sebanyak 10 ml kedalam tabung reaksi steril,  kemudian dimasukkan 1 ose Streptococus mutans dan diingkubasi selama 1 x 24 jam. Untuk metode miring dengan cara menuang 10 ml medium NA kedalam tabung reaksi steril, kemudian dibiarkan memadat dengan kemiringan 45o, setelah itu diambil 1 ose Sreptococcus mutans dan digores pada permukaan medium dengan cara zig-zag. Untuk metude cair dengan cara menuang medium NB kedalam tabung reaksi steril kemudian dituang sampel mikroba dan diingkubasi 1 x 24 jam.
Untuk uji Streptococcus mutans pada Na tegak ditemukan bentuk koloni yang papiliate, pada NA miring bentuk koloninya flocculent growth, dan untuk NB bentuk koloninya sediment. Untuk Rhizopus bentuk koloninya untuk NA tegak pellide, NA miring uniform turbidity dan untuk metode cair bentuk koloninya cerab.
Untuk uji beberapa sampel pada metode isolasi bakteri diperoleh urin dengan metode gores mempunyai bentuk yang circular, tepinya entire, dan elevasinya convex. Buavita dengan metode sebar mempunyai bentuk yang irregular, tepinya lobate, dan elevasinya umbonate. Air PAM Daya dengan metode tuang mempunyai bentuk yang circular, tepinya entire, dan elevasinya convex. Tanah Rappocini dengan metode sebar mempunyai bentuk yang rhizoid, tepinya serrate, dan elevasinya flat.
Sedangkan pada isolasi jamur diperoleh urin dengan metode gores mempunyai bentuk yang circular, tepinya entire, dan elevasinya convex. Buavita dengan metode sebar mempunyai bentuk yang circular, tepinya entire, dan elevasinya convex. Air PAM Daya dengan metode tuang mempunyai bentuk yang circular, tepinya entire, dan elevasinya convex. Tanah Rappocini dengan metode sebar mempunyai bentuk yang filamentous, tepinya undulate, dan elevasinya umbonate.


DAFTAR PUSTAKA
Dwidjaseputro., 1998., “Dasar-dasar Mikrobiologi”.,  Djambatan., Malang.
Jide, N., Sartini., 2003., “Mikrobiologi Farmasi Dasar., Universitas Hasanuddin., Makassar.
Oetomo hadi, Ratna sari., 1990., ”Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek”., PT.Gramedia., Jakarta.
Pelczaer Jr, ECS Chan., 1986., Dasar-Dasar Mikrobiologi., Universitas Indonesia., Jakarta.
Sutedjo, M, dkk., 1997., “ Mikrobiologi Tanah” ., Rineka Cipta., Jakarta.
Volk  W. A. F , Wheeter  ,  1998  ,  Mikrobiologi Dasar  , Erlangga; Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar